Wednesday, April 18, 2012

Bola Api Raksasa dari Erupsi Matahari

Sebuah bola api raksasa dari erupsi matahari tertangkap Solar Dynamics Observatory (SDO) milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Ledakan ini berkekuatan sedang.

Ledakan tersebut terjadi di sisi Timur Laut Matahari, Senin malam 16 April lalu, seperti diberitakan Dailymail edisi 17 April 2012.

NASA menyebut bola api dari erupsi matahari itu sebagai salah satu pemandangan terindah dalam beberapa tahun terakhir. Dengan kekuatan M1, dalam skala badai matahari, tergolong kekuatan sedang.

Karena ledakan ada di sisi kiri matahari, pesawat luar angkasa SDO bisa merekam detik-detik ledakan dan kemunculan bola api yang cantik tersebut. "Erupsi besar sedang terjadi di matahari," tulis ilmuwan NASA di situs jejaring sosial Twitter.

Erupsi ini terjadi di wilayah aktif matahari. Aktivitas di titik ini diduga juga bertanggung jawab atas terjadinya badai matahari yang terlihat Minggu lalu, demikian kata ilmuwan seperti dikutip dari Space.com.
"Erupsi semacam ini kerap dikaitkan dengan badai matahari. Dalam kasus ini, kekuatan ledakan M1 (medium), coronal mass ejection tidak sampai ke bumi," jelas NASA.


Jika ledakan kuat matahari ini tepat mengarah ke bumi, manusia bisa menikmati cantiknya cahaya aurora, baik di sekitar kutub utara maupun selatan.

Peneliti biasanya mengklasifikasi kekuatan jilatan api ini ke dalam C, M, dan X. Setiap satu abad, bumi harus 'babak belur'  karena terkena dampak delapan letusan matahari.

Badai kelas X merupakan badai terkuat, Jika sampai ke  bumi, badai jenis ini berbahaya bagi pengorbitan astronot dan pesawat luar angkasa, jaringan listrik, komunikasi, dan sistem navigasi di bumi.

Pakar dari Universitas Reading, Luke Barnard mengatakan, aktivitas badai matahari menunjukkan kecenderungan meningkat.

"Radiasi luar angkasa bisa jadi masalah serius baik untuk manusia maupun sistem listrik di mana manusia sudah tergantung padanya. Penelitian kami menunjukkan masalah ini akan makin memburuk di dekade mendatang. Ilmuwan harus bekerja lebih keras untuk mengurangi dampak negatifnya." ~VIVAnews.

No comments: